
Program Grand Design Alternative Development di Kabupaten Gayo Lues sukses memberdayakan masyarakat. Kini, mantan penanam ganja di wilayah itu sudah memilih komoditi jagung dan jahe.
“Sekarang ini saya tanya sudah tidak ada lagi yang mau menanam ganja. Gak ada keinginan lagi,” ujar Penghulu Gampong Pepelah M. Amin, disela sela kunjungan ke lokasi lahan ganja di Gampong Pepelah, Rabu (2/9).

Amin menjelaskan, dahulunya ditahun 1990 hingga tahun 2000, sebagian besar masyarakat bekerja menanam tanaman yang masuk kategori gol I UU No.35 Tahun 2009 tersebut.
“Ada yang menanam, ada yang mengantar, dan ada yang menjual. Semuanya profesinya dulu itu,” jelasnya.
Bahkan, Amin tak sungkan menceritakan, kisah kelam dirinya dulu yang sudah menekuni sejak tahun 1989 hingga 2008.

“Bukan sekilo, 10 kilo, paling kecil yang bawa 500 kilogram. Bahka saya berani bayar lebih tinggi, karena saya juga jual keluar harga tinggi,” ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, Amin pun bertaubat untuk tidak lagi melakukan itu. Disamping banyaknya korban yang tersandung hukum, juga meninggal tertembus peluru.

“Kalau dulu, motivasi kita karena ekonomi. Jadi saya sejak 2007, bertekad membantu masyarakat untuk tidak lagi menanam ganja, kita usaha bertani lain saja. Dan sekarang kita tawari pun sudah tidak mau,” pungkasnya.
Saat ini, Amin beserta masyarakat sudah mulai memilih komoditi lainnya sebagai pilihan untuk meningkatkan kesejahteraan. Terbukti, dari bantuan bibit jagung yang diberikan melalui program GDAD seluas 30 Hektar, kini meningkat menjadi 68 Hektar di tahun 2020.

Kasubdit Pedesan Direktorat Dayatif BNN Hendrajit P Widagdo mengaku takjub dengan usaha dan kerja keras penghulu Pepelah. Saat meninjau ke lokasi lahan ganja yang sekarang sudah berubah menjadi jagung.
Hal inilah yang diharapkan BNN dari program GDAD, tambah Hendrajit, para petani ganja diharapkan tidak lagi menanam komoditi yang dilarang tersebut.
Pada kesempatan peninjauan lahan itu, turut mendampingi Ka BNNK Gayo Lues Fauzul Imam, dan Kasi Pemetaan Kawasan Rawan Pedesan Yudi Widiarto, dan Kasi Dayamas BNNP Aceh Suharmansyah.
Jalur yang ditempuh lokasi lahan yang ditinjau sangat ekstrim dengan melintasi tiga bukit dengan ketinggian 900 mdpl dengan waktu tempuh 1 jam dari jalan raya Gampong Pepelah. Sebelumnya lokasi ini tidak memiliki jalan masuk, namun Penghulu Pepelah membuka jalan agar memudahkan masyarakat membawa hasil pertanian.
#stopnarkoba
#humasbnnpaceh

